Musi Rawas

Disinyalir Konsumen Jeriken Dominasi SPBU Simpang Semambang

MUSI RAWAS – | SPBU Simpang Semambang Kecamatan Tuah Negeri Kabupaten Musi Rawas disinyalir didominasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan menggunakan jeriken, ketimbang konsumen menggunakan kendaraan.

Pasalnya setiap hari SPBU tersebut melayani konsumen yang membeli menggunakan ratusan jeriken, sehingga berimbas terganggunya konsumen menggunakan kendaraan yang akan mengisi bahan bakar.Tak jarang pelangan yang akan membeli untuk kebutuhan kendaraannya tak kebagian.

Seperti pantauan wartawan inilahkito.com, Rabu ( 15/4), tampak sejumlah kendaraan roda empat berisi puluhan jeriken mengisi BBM baik jenis pertalite maupun solar subsidi di SPBU tersebut.

Padahal pertamina sudah memberikan imbauan melarang pelayanan pembelian pertalite menggunakan jeriken yang diisi langsung diatas kendaraan.

Selain itu, untuk membeli menggunakan jeriken ada aturannya, minimal harus disertai rekomendasi dari kades sesuai kebutuhan dan peruntukan pelangan.Misalnya untuk kebutuhan masyarakat nelayan, petani dan berkebun serta atau untuk dijual lagi di wilayah yang jauh dari SPBU sesuai kebutuhan.

” Beginilah kondisi SPBU di sini pak, setiap hari apalagi pagi hari selalu didominasi pelangan menggunakan jeriken.Tak jarang, SPBU ini tak sampai sore hari tidak lagi melayani pembelian BBM subsidi, karena BBM jenis pertalite dan solar subsidi sudah habis, meskipun ada cuma pertamax dan solar non subsidi,” kata Irawan salah seorang konsumen yang kesal terhadap pelayanan SPBU tersebut.

Dirinya berharap kepada pihak pertamina dan Hiswana Migas serta pihak berwenang lainnya menggelar sidak dan memberikan teguran kepada SPBU Simpang Semambang.

“Kami jadi bingung pak, untuk apa keberadaan SPBU ini jika hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen menggunakan jeriken kemudian dijual lagi secara eceran kepada kendaraan yang membutuhkan bahan bakar. Padahal BBM yang dijual menggunakan jeriken ini jenis BBM subsidi. Jika selamanya kondisi pelayanan SPBU seperti ini, lebih baik cabut saja izinnya,” kata dia.

Senada diungkapkan warga inisial Fr, sepengetahuannya aktifitas SPBU Simpang Semambang didominasi oleh pelangan menggunakan jeriken ini sudah sejak lama, bahkan sejak SPBU ini ada.

Pembeli menggunakan jeriken ini kata dia, selain untuk dijual kembali secara eceran di lokasi tak jauh dari lokasi SPBU dan untuk kebutuhan pelangan yang jauh dari SPBU, disinyalir juga untuk dijadikan campuran minyak oplosan.

“BBM asli (murni,red) yang dibeli dari SPBU ini oleh konsumen menggunakan jeriken tersebut diduga ada juga digunakan untuk mencampur minyak mentah.Sehingga oplosan tersebut seolah-olah BBM asli dari pertamina. Jadi yang membeli menggunakan jeriken ini, diduga banyak untuk bisnis minyak mentah ,” katanya.

Dia juga mengatakan mengapa pihak SPBU melayani pembelian menggunakan jeriken dalam jumlah banyak ini sangat mudah dilayani, karena setiap pembelian menggunakan jeriken diduga ada fee untuk pegawai SPBU yang melayani pembelian menggunakan jeriken.

” Diduga setiap pembelian menggunakan jeriken ada fee nya Rp 5 Ribu sampai Rp 10 Ribu per jeriken pak,” ungkapnya.

Koordinator LSM Peko, Andi Lala berharap kepada instansi berwenang yang menangani SPBU ini agar memberikan tindakan tegas terhadap SPBU disinyalir “nakal” tersebut.

“Saya harap kepada instansi berwenang agar memberikan tindakan tegas, bahkan bila perlu cabut saja izinnya alias tutup,” kata dia.

Lanjut Andi, pelayanan SPBU yang lebih mengutamakan pembeli menggunakan jeriken ini sangat merugikan pemilik kendaraan yang benar benar membutuhkan BBM untuk bepergian keluar kota dan sebagainya.

Ketua Hiswana Migas Musi Rawas Winasta saat dimintai tanggapannya terkait kondisi ini mengatakan sebenarnya tidaklah masalah, karena BBM jenis pertalite bukanlah jenis BBM subsidi.

Terkait adanya imbauan pertamina agar tidak melayani pembelian pertalite menggunakan jeriken katanya, tidak mungkinlah melayani pembelian menggunakan ember.

Dirinya membantah jika SPBU Simpang Semambang tersebut cepat habis. Dijelaskannya dalam sehari yang terjual cuma 8 ton separohnyo dari dulu sebelum covid ditambah saat ini sudah banyak pertashop meskipun pertashop cuma jualan pertamax saja.

Dikatakannya juga pelayanan pembelian menggunakan jeriken ini untuk kebutuhan pelangan yang jauh – jauh saja dan untuk pelangan yang masih belum mau beli pertamax langsung di pertashop.

” Kl pertalite dpp sbnrnyo om.. Kan bkn subsidi,” ujarnya via WA menjawab konfirmasi wartawan. | sumber : inilahkito.com | Link : http://www.inilahkito.com/2021/04/15/disinyalir-konsumen-spbu-simpang-semambang-didominasi-pelangan-jeriken/

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: