Musi Rawas

Bagaimana Menjadi Kompeten?

“Geniuses often spend an unusual amount of time to mastering basic knowledge… ‘
— Robert Dilts —

Menjadi kompeten dalam suatu disiplin ilmu perlu waktu dan seringkali orang yang menguasai sesuatu menghabiskan banyak waktu untuk mengulang dan mencermati kembali apa yang telah mereka pelajari.

Dalam dunia pemberdayaan diri ada tiga proses seseorang menguasai sesuatu, yaitu dengan menceburkan diri untuk mengalami, mengulang-ngulang untuk mematri, dan menikmati umpan balik untuk memahami, hal ini tentu berdampak pada penguasaan materi yang telah dipelajari.

Dalam dunia pendidikan, pemahaman seseorang ada empat tahap, mulai dari;

Unconscious incompetence (tidak tahu dan tidak kompeten).

Conscious incompetence (menyadari tapi belum kompeten).

Conscious competence (menyadari dan mulai sedikit kompeten).

Unconscious competence (Kompetensi yang sudah menjadi otomatis).

Empat tahap belajar di atas adalah umum terjadi pada siapapun, contoh paling nyata adalah ketika seorang anak belajar naik sepeda, ada proses dari tidak bisa sampai menguasai dan ini butuh waktu.

Napoleon Hill menyebutnya dengan istilah Hypnotic Rhythm, ketika kita menerima suatu ide maka pelan-pelan akan masuk ke pikiran kita, terekam dan tersimpan dalam gudang memori, dan bukan hanya dalam hal positif saja tapi juga dalam hal negatif, seperti pengalaman tidak nyaman yang terasosiasi dengan object tertentu atau sering disebut phobia, para ahli mengatakan bahwa Phobia adalah keterampilan kognitif dan bisa disabotase untuk diubah.

Proses dan tahapan belajar ini sebenarnya juga terjadi pada dunia training, ketika Anda mengikuti workshop, saat itu Anda baru mengenal dan mengetahui sebuah pola, kompetensi Anda baru terbentuk dan tentu untuk menjadi keahlian otomatis perlu direpetisi diluar workshop, dan berlatih kembali.

Robert Dilts salah satu pengembang Neuro Linguistuc Programming (NLP) membuat banyak buku dengan judul Genius, dia mencermati bagaimana kejeniusan Sherlock Holmes, Aristotle, Mozart dan Walt Disney.

Dilts memodel mereka secara linear, memahami cara berpikir mereka secara vertikal dan mengembangkan Neurological level yang merupakan konsep pemodelan secara systematic.

Hal lain yang juga penting yang membuat proses belajar kita menjadi lengkap adalah menuliskan apa yang telah dibaca atau dialami, tidak perlu menuliskan hasil belajar secara deskriptif seperti artikel ini, cukup point-point penting dari apa yang dipelajari, sebab bisa menjadi jangkar memory, lalu share atau bagikan ke publik melalui sosmed, dan nantinya Anda akan mendapatkan feedback dari pembaca Anda, dengan ini tulisan Anda akan berkembang, nikmati apapun bentuk umpan baliknya.

Selanjutnya adalah Zona Belajar, pahami waktu terbaik Anda menyerap informasi dan lingkungan belajar yang nyaman dan partner belajar, sebab bisa berdampak terhadap penguasaan materi yang pernah Anda pelajari.

Seorang pembelajar memahami bahwa ada waktu, tenaga dan investasi yang menjadi ongkos sebuah penguasaan keilmuan, dan ini terjadi dimana pun, terus berinovasi dalam dunia pemberdayaan diri.

Nah, sekarang Anda sudah paham bahwa belajar perlu proses yang dinikmati, silakan berlatih dengan apa yang Anda diniatkan sebagai wasilah Anda di dunia untuk membuat Anda menjadi bermakna atau sebagai sandaran kehidupan.

Terima kasih dan Semoga Bermanfaat.

Salam Pembelajar dan Salam Hipnosis.

Yusdi Lastutiyanto., CHt (IACT-USA).,CI.
Pembelajar Hipnosis dan NLP

Bogor, 28 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

error: Apo kabar Boss ???
%d blogger menyukai ini: